ANTIHISTAMIN
Histamin
merupakan salah satu faktor yang menimbulkan kelainan akut dan kronis, sehingga
perlu diteliti lebih lanjut mekanisme antihistamin pada pengobatan penyakit
alergik. Antihistamin merupakan inhibitor kompetitif terhadap histamin.
Antihistamin dan histamin berlomba menempati reseptor yang sama. Blokade
reseptor oleh antagonis H1 menghambat terikatnya histamin pada reseptor
sehingga menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos,
peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah.
Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa antihistamin H1 bukan hanya sebagai antagonis
tetapi juga sebagai inverse agonist yang mempunyai kapasitas menghambat
aktivitas reseptor H1 sedangkan antagonis H1 tidak berpengaruh terhadap
aktivitas reseptor H1. Reseptor pada permukaan sel (termasuk reseptor H1) dapat
berikatan dengan protein G yang terdapat pada membran sel di daerah
yang berbatasan
dengan sitoplasma (cytosolic domain of cell membrane). Perubahan/peningkatan
aktivitas reseptor H1 yang dipengaruhi molekul dari luar sel
mengakibatkan perubahan/peningkatan aktivitas protein G. Perubahan/
peningkatan
aktivasi protein G menimbulkan transduksi signal (signal transduction)
ke beberapa target (efektor), sehingga mengakibatkan aktivasi NF-kB yang merupakan
faktor transkripsi yang berperan pada terjadinya reaksi
radang.
Tata
Nama
Histamin, diketahui secara trival sebagai
4(5-)(2-aminoetil)midazol, secara structural terdiri atas heterosiklik imidazol
dan rantai samping etilamin. Gugus metil pada rantai samping aminoetil
ditunjukkan dengan α dan β. Rantai samping dilekatkan, melalui gugus β-CH2,
pada posisi 4 cincin imidazol. N imidazol pada posisi 3 ditunjukkan N pros
(), sedangkan N pada posisi 1 menunjukkan N tele (). Rantai samping N
dibedakan sebagai Nα..
Stereokimia
Histamine adalah molekul akiral; namun, reseptor histamine
diketahui memberikan stereoselektivitas tinggi terhadap lingan kiral. Pemodalan
molecular dan penelitian hubungan aktivitas-sterik mengenai pengaruh isomerisme
komformasional pada aktivitas histamine menunjukkan pentingnya struktur
ritamerik trans-gauche dalam aktivitas reseptor senyawa ini.
Penelitian dengan analog histamine yang secara konformasi terbatas menunjukkan
bahwa saat rotamer trans histamine memiliki afinitas baik untuk
reseptor histamine H1 maupun H2, konformer guache tidak
bekerja pada tempat H2.
Biosintesis
dan Distribusi
Histamine disintesis dalam granul sitoplasma sel penyimpanan
utama, sel mast dan basofilnya. Histamine dibuat secara alamiah dari asam
amino, yakni S-histidin, melalui katalisis enzim histidin dikarboksilase
bergantung-piridoksal fosfat (HDC, EC 4.1.1.22) atau asam amino, dekarboksilase
aromatic. Spesifik substrat lebih tinggi untuk HDC. Inhibitor HDC (HDCI)
mengandung α-fluorometil histidin (FMH) dan flavonoid tertentu, meskipun tak
ada HCDI yang telah terbukti berguna secara klinis.
Histamine
berinteraksi dengan reseptor spesifik pada berbagai jaringan target. Reseptor
histamine dibagi menjadi histamine 1 (H1) dan histamine 2 (H2).
Aktivitas reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos.
Bronkokonstriksi paling banyak terjadi pada pasien asma bronchial dan penyakit
paruh lainnya.
Histanin
melakukan kerja biologisnys berkombinasi dengan reseptor selular yang terdapat
pada permukaan membrane. Ada tiga jenis reseptor histamine yang dikenal disebut
H1, H2, dan H3. Di dalam otak reseptor H1 dan
H2 terdapat pada pascasinaptik, sedangkat H3 berada di membrane parasinaptik.
Aktifitas reseptor H1 menyebabkan efek penurunan tekanan vascular perifer,
peningkatan venula pascakapiler, vasokontruksi arteri koroner dan arteri
basiler, bronkospasmae, kontraksi otot polos ileum, rasa sakit, dan gatal pada
ujung saraf kulit, serta pada dosis tinggi, histamine merangsang pelepasan
katekolamin dari medulla adrenalis.
MACAM-MACAM
ANTIHISTAMIN
1. Antihistamin (AH1) non sedatif.
a. Terfenidin
Merupakan
suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan
mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang
cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi
luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan
urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4
jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X
sehari.
b. Astemizol
Merupakan
derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia.
Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1
jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari.
Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di
distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat
lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan
alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam
urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
c. Mequitazin
Merupakan
suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada
pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian.
Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg
2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d. Loratadin
Adalah
suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. 1. Penambahan atom C1 meninggikan
potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai
setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama
kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada
pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar
puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai
jaringan tubuh. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di
ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan
fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X
sehari.
2. Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang
dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin:
a. Antagonis Histamin H1
(senyawa Antihistamin)
Istilah
antihistamin secara historis berarti obat obat yang mengantagonis kerja
histamine pada reseptor H1 dan bukan reseptoe H2.
Pengembangan obat antihistamin dimulai lebih dari lima dasawarsa yang lalu
dengan penemuan bahwa diperoksan dapat melindungi hewan dari spasme bronchial
yang diinduksi oleh histamine. Penemuan ini diikuti dengan sintesis sejumlah N-feniletilendiamin
yang memiliki aktivitas antihistamin lebih besar daripada piperoksan.antagonis
H1 ini, kini dikenal dikenal sebagai antihistamin generasi-pertama
atau klasik, berhubungan secara structural dan mencakup sejumlah
aminoalkil eter, etilendiamin, piperazin, propilamin, fenotiazin dan
dibenzosiklohepten. Selain antagonism reseptor H1, senyawa ini
menunjukkan serangkaian aktivitas farmakologis lain yang berperan dalam
penetapan teraupetik dan reaksi merugikan.
Mekanisme
Kerja:
Antagonis H1 didefinisikan sebagai obat yang
secara kompetitif menghambat kerja histamine pada jaringan yang mengandung
reseptor H1. Dahulu, antagonis H1 dievaluasi secara in
vitro karena kemampuannya untuk menghambat spasme yang diinduksi oleh
histamine dalam sepotong ileummarmot yang diisolasi. Antihistamin dapan
dievaluasi secara in vivo karena kemampuannya untuk melindungi hewan
terhadap efek letal dari histamine yang diberikan secara intravena atau melalui
aerosol.
b. Anti histamine H-2 (H2)
Reseptor
histamine H-2 berperan terutama dalam sel parietal mukosa lambung. Aktivitas
reseptor tersebut oleh histamine merangsang sel tersebut dalam sekresi asam
lambung. Anti-histamin H-2 menurunkan sekresi asam lambung, dan digunakan dalam
pengobatan Maag, tukak peptic dan refluks gastrointestinal. Contoh obat
anti-histamin h-2 adalah ranitidine, simetidin, famotidin dan lafutidin.
c. Anti-histamin H-3
Reseptor
histamine H-3 ditemukan dalam otak berperan sebagai autoreseptor di sel syaraf
histaminergik presinaptik. Fungsi reseptor H-3 berperan dalam control sintesis
dan pelepasan histamine melalui penghambatan feedback. Anti-histamin-3
sejauh belum digunakan dalam klinik, namun baru dilakukan penelitian secara
luas untuk dikembangkan sebagai obat pada penyakit neurodegenerative. Contoh
senyawa golongan ini adalah klobenpropit, siproksifam, tioperamid.
d. Anti-histamin H-4
Reseptor histamine H-4 berperan dalam hemotaksis sebagai sel mast,
anti-histamin H-4 juga belum digunakan secara klinik. Obat ini dikembangkan
sebagai imunomodulator, antiinflamasi dan analgesic. Contohnya adalah tioperamida.
Turunan Fenotiazin
Fenotiazin adalah antagonis dopamin dan bekerja sentral
dengan cara menghambat chemoreseptor trigger zone. Obat ini dipakai
untuk profilaksis dan terapi mual dan muntah akibat penyakit neoplasia, pasca
radiasi, dan muntah pasca penggunaan obat opioid, anestesia umum, dan
sitotoksik. Efek sedasi proklorperazin, ferfenazin, dan trifluoperazin lebih
rendah dibanding klorpromazin. Reaksi distonia berat kadang-kadang muncul pada
pemakaian fenotiazin, terutama pada anak-anak. Obat antipsikotik lainnya,
termasuk haloperidol dan levomepromazin (metotrimeperazin) dan juga digunakan
untuk meringankan gejala mual.
Farmakodinamik:
Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ)
adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat
dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ
(largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata
large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek
sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada
pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi
amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas
dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini
juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat,
atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah
timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat
fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala
parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah
yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah
disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler. Fenotiazin terutama
yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada
pasien epilepsi harus berhati-hati.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian
diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin
dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%.
Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan
protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit
klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat
terakhir.
Mekanisme Kerja
Obat turunan fenotiazin ini bekerja
sebagai antagonis dari reseptor D2 karena afinitasnya yang tinggi pada reseptor
ini. Penghambatan pada reseptor D2 memberikan efek terhalangnya jalur
dopaminergik pada otak terutama pada jalur mesocortical, nigrostriatal dan
tuberoinfundibular yang menghasilkan efek terapeutik dan efek samping dari
penggunaan obat antipsikotik.
Turunan Etilendiamin (X=N)
Derivat etilendiamin ini (1961) berkhasiat spesifik terhadap
M. Tuberculosa dan M. Atipis (termasuk MAI), tetapi tidak terhadap bakteri lain. Kerja bakteriostatisnya
sama kuatnya dengan INH, tetapi pada dosis terapi kurang efektif dibandingkan
obat-obat primer. Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan sintesis RNA pada
kuman yang sedang membelah, juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding
sel.
Obat-obat dari kelompok ini umumnya memiliki data sedative
yang lebih ringan.
Antazolin : Daya antihistaminiknya kurang kuat,
tetapi tidak merangsang
selaput lendir. Digunakan untuk mengobati
gejala-gejala alergi
pada mata dan hidung (selesma) sebagai
preparat kombinasi
dengan nafazolin (Antistin-Privine, Ciba).
Tripelenamin : Digunakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal
akibat reaksi alergi.
Mepirin : Adalah derivate metoksi dari
tripelenamin yang digunakan dalam
Kombinasi dengan feniramin dan
fenilpropanolamin.
Klemizol : Digunakan dalam preparat kombinasi
salep atau suppositoria anti
Wasir.
Turunan Propilamin (X=C)
Obat-obat
dari kelompok ini memiliki daya antihistamin kuat yaitu:
a. Feniramin : Berdaya antihistamik baik dengan efek
meredakan batuk yang
cukup baik.
Klorfenamin :
Mempunyai daya 10 kali lebih kuat, sedangkan derajat toksisitas
nya
praktis tidak berubah. Efek-efek sampingnya adalah sifat
sedatifnya
ringan.
Bromfeniramin
: Derivatnya sama kuat dengan klorfenamin, isomer dextro juga
aktif dan isomer levo tidak. Juga digunakan
sebagai obat batuk.
b. Tripolidin : Derivat ini berdaya agak kuat, mulai
kerjanya pesat dan bertahan
lama.
Turunan
Kolamin ( Eter Amino Alkil )
Struktur
umum : Ar(Ar-CH2)CH-O-CH2-CH2-N (CH3)
Hubungan
struktur dengan aktivitas:
Ø Pemasukan
gugus Cl, Br, dan OCH3 pada posisi para cincin aromatik juga
meningkatkan aktivitas dan menurunkan efek samping.
Ø Pemasukan
gugus CH3 pada posisi para cincin aromatik meningkatkan aktivitas.
Ø Senyawa
turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergikyang cukup bermakna
karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol.
Turunan eter aminoalkil yang
pertama kali digunakan sebagai antagonis H1 adalah difenilhidramin. Studi
hubungan kuantitatif turunan difenilhidramin oleh kutter dan hansch menunjukkan
bahwa sifat lifofilik dan sterik mempengaruhi aktivitas antihistamindan
pengaruh sifat sterik lebih dominan dibanding sifat lifofilik.
Efek samping umum turunan aminoalkil eter tersier adalah mengantuk dan
efek samping pada saluran cerna relatif rendah.
Sumber:
Pohan S. S.
2007. Mekanisme Antihistamin pada
Pengobatan Penyakit Alergik:
Blokade
Reseptor–Penghambatan Aktivasi Reseptor.
Jurnal Maj Kedokt Indon. Vol.
57 No.4.
Staf pengajar Depertemen Farmakologi fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya.2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta: EGC.
Tjay T. H dan R. Kirana. 2007. Obat-obatan Penting. Jakarta:
Gramedia.
Wilson dan Gisvold. 2012. Kimia Medisinal Organok dan Kimia Farnasi. Jakarta:
EGC.
Pertanyaan:
1. Bagaimana
mekanisme kerja dari antihistamin?
2.
Sebutkan satu contoh obat dari Turunan Kolamin ( Eter Amino
Alkil ) ?
3. Bagaimana
mekanisme kerja dari Anti-histamin H-4?
4. Sebutkan
efek smaping dari antihistamin?
5. Apa
yang membedakan antara anti-histamin H-1, H-2, H-3, dan H-4?
6. Sebutkan
contoh obat dari anti histamin H-1?
7.
Jelaskan cara turunan fenotiazin dalam menghambat chemoreseptor trigger zone
!