Jumat, 20 Oktober 2017

Contoh obat turunan Fenotiazin (Thioridazine)


FENOTIAZIN

THIORIDAZINE



Thioridazine adalah obat untuk mengobati gangguan jiwa/mood tertentu (misalnya, skizofrenia). Obat ini membantu Anda untuk berpikir lebih jernih, merasa kurang gugup, dan mengambil bagian dalam kehidupan sehari-hari. Obat ini juga dapat membantu mencegah bunuh diri pada orang yang cenderung merugikan diri mereka sendiri dan mengurangi agresi dan keinginan untuk menyakiti orang lain. Obat ini dapat membantu mengurangi pikiran negatif dan halusinasi. Thioridazine termasuk dalam kelas obat phenotiazines.
Kegunaan lain: Bagian ini memuat penggunaan obat ini yang tidak tercantum dalam label yang sudah disetujui, namun mungkin saja diresepkan oleh ahli kesehatan Anda. Gunakan obat ini untuk kondisi yang tercantum di bawah hanya jika sudah diresepkan oleh dokter dan ahli kesehatan Anda.Obat ini juga dapat digunakan untuk jangka waktu yang singkat untuk mengobati depresi yang sangat parah ketika pasien merasa cemas.
Efek samping
Berikut adalah daftar efek samping yang memungkinkan yang dapat terjadi dalam obat-obat yang mengandung Thioridazine. Ini bukanlah daftar yang komprehensif. Efek-efek samping ini memungkinkan, tetapi tidak selalu terjadi. Beberapa efek samping ini langka tetapi serius. Konsultasi pada dokter Anda jika Anda melihat efek samping berikut, terutama jika efek samping tidak hilang.
  • Tidak adanya menstruasi
  • Debit susu yang abnormal dari payudara
  • Penglihatan kabur
  • Mual
  • Kendurnya payudara
  • Hidung tersumbat
Thioridazine tersedia dalam bentuk tablet 50-100 mg, dosis yang digunakan bervariasi, namun pada penderita schizofrenia yang sudah dewasa dapat diberikan dosis awal sebesar  50-100 mg per oral tiap 8 jam.kemudian, baru diberika 200-800 mg/hari per oral tiap 6-12 jam.dosis yanag diberikan juga harus memperhatikan keadaan ginjal dan hati pasien.
Farmakokinetik:
Kebanyakan dari antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg).Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.

Mekanisme Kerja:
Obat anti psikosis memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis).  Obat anti psikosis berafinitasterhadap  dopamine D2 juga terhadap serotonin.



Pertanyaan:
1.  bagaimana indikasi dari Thioridazine?
2.  apa saja efek samping dari Thioridazine?
3.  bagaimana farmakodinamik dari Thioridazine?

Kamis, 19 Oktober 2017

Oxamniquine



Oxamniquine

Oxamniquine merupakan obat yang digunakan untuk kontrol, pencegahan, perbaikan penyakit yang disebabkan oleh cacing schistosomiasis. 
Mekanisme Kerja:
Merupakan anthelmintik dengan aktivitas schistosomicidal melawan Schistosoma mansoni, namun tidak melawan Schistosoma spp lainnya. Oxamniquine adalah agen dosis tunggal ampuh untuk pengobatan infeksi S. mansoni, dan dapat menyebabkan cacing bergeser dari pembuluh darah mesenterika ke hati, di mana cacing jantan dipertahankan; Cacing betina kembali ke mesenterium, tapi tidak bisa lagi melepaskan telur.
Oxamniquine adalah tetrahydroquinoline semisynthetic dan mungkin dilakukan dengan cara mengikat DNA, mengakibatkan kontraksi dan kelumpuhan cacing dan kematian. Mekanisme biokimianya dihipotesiskan terkait dengan efek antikolinergik, yang meningkatkan motilitas parasit, serta penghambatan sintesis asam nukleat. Oxamniquine bekerja terutama pada cacing jantan, tapi juga menginduksi perubahan kecil pada sebagian kecil betina. Seperti praziquantel, ia meningkatkan kerusakan yang lebih parah pada tegument dorsal daripada permukaan ventral. Obat tersebut menyebabkan cacing jantan beralih dari sirkulasi mesenterika ke hati, dimana respon pembawa seluler menyebabkan eliminasi akhirnya. Perubahan yang terjadi pada betina bersifat reversibel dan terutama disebabkan oleh stimulasi jantan yang dihentikan sehingga cacing betina tidak mampu bertelur daripada efek langsung dari oxamniquine.
DOSIS PENGGUNAAN
Efektif  hanya untuk S. mansoni. Dosis sekali 12-15 mg/kg/hari. Ada juga yang memberikan 40-60 mg/kg/hari dosis terbagi 2 atau 3 selama 2-3 hari, diberikan bersama makanan. Angka kesembuhan 70-95%

Efek Samping:
  • Pusing
  • Kantuk
  • Sakit kepala
  • Perubahan perilaku
  • Perangsangan
  • Halusinasi


Pertanyaan:
1.      Bagaimana kontra indikasi dari oxamniquine? 
2.      Bagaimana farmakodinamik dari oxamniquine? 
3.      Obat herbal/tumbuhan apa yang mekanisme kerjanya mirip dengan oxamniquine atau     mengurangi cacing schistosomiasis?

Antihistamin




ANTIHISTAMIN




Histamin merupakan salah satu faktor yang menimbulkan kelainan akut dan kronis, sehingga perlu diteliti lebih lanjut mekanisme antihistamin pada pengobatan penyakit alergik. Antihistamin merupakan inhibitor kompetitif terhadap histamin. Antihistamin dan histamin berlomba menempati reseptor yang sama. Blokade reseptor oleh antagonis H1 menghambat terikatnya histamin pada reseptor sehingga menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa antihistamin H1 bukan hanya sebagai antagonis tetapi juga sebagai inverse agonist yang mempunyai kapasitas menghambat aktivitas reseptor H1 sedangkan antagonis H1 tidak berpengaruh terhadap aktivitas reseptor H1. Reseptor pada permukaan sel (termasuk reseptor H1) dapat berikatan dengan protein G yang terdapat pada membran sel di daerah
yang berbatasan dengan sitoplasma (cytosolic domain of cell membrane). Perubahan/peningkatan aktivitas reseptor H1 yang dipengaruhi molekul dari luar sel mengakibatkan perubahan/peningkatan aktivitas protein G. Perubahan/
peningkatan aktivasi protein G menimbulkan transduksi signal (signal transduction) ke beberapa target (efektor), sehingga mengakibatkan aktivasi NF-kB yang merupakan faktor transkripsi yang berperan pada terjadinya reaksi
radang.


Tata Nama
Histamin, diketahui secara trival sebagai 4(5-)(2-aminoetil)midazol, secara structural terdiri atas heterosiklik imidazol dan rantai samping etilamin. Gugus metil pada rantai samping aminoetil ditunjukkan dengan α dan β. Rantai samping dilekatkan, melalui gugus β-CH2, pada posisi 4 cincin imidazol. N imidazol pada posisi 3 ditunjukkan N pros (), sedangkan N pada posisi 1 menunjukkan N tele (). Rantai samping N dibedakan sebagai Nα..

Stereokimia
Histamine adalah molekul akiral; namun, reseptor histamine diketahui memberikan stereoselektivitas tinggi terhadap lingan kiral. Pemodalan molecular dan penelitian hubungan aktivitas-sterik mengenai pengaruh isomerisme komformasional pada aktivitas histamine menunjukkan pentingnya struktur ritamerik trans-gauche dalam aktivitas reseptor senyawa ini. Penelitian dengan analog histamine yang secara konformasi terbatas menunjukkan bahwa saat rotamer trans histamine memiliki afinitas baik untuk reseptor histamine H1 maupun H2, konformer guache tidak bekerja pada tempat H2.

Biosintesis dan Distribusi
Histamine disintesis dalam granul sitoplasma sel penyimpanan utama, sel mast dan basofilnya. Histamine dibuat secara alamiah dari asam amino, yakni S-histidin, melalui katalisis enzim histidin dikarboksilase bergantung-piridoksal fosfat (HDC, EC 4.1.1.22) atau asam amino, dekarboksilase aromatic. Spesifik substrat lebih tinggi untuk HDC. Inhibitor HDC (HDCI) mengandung α-fluorometil histidin (FMH) dan flavonoid tertentu, meskipun tak ada HCDI yang telah terbukti berguna secara klinis.
Histamine berinteraksi dengan reseptor spesifik pada berbagai jaringan target. Reseptor histamine dibagi menjadi histamine 1 (H1) dan histamine 2 (H2). Aktivitas reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos. Bronkokonstriksi paling banyak terjadi pada pasien asma bronchial dan penyakit paruh lainnya.
Histanin melakukan kerja biologisnys berkombinasi dengan reseptor selular yang terdapat pada permukaan membrane. Ada tiga jenis reseptor histamine yang dikenal disebut H1, H2, dan H3. Di dalam otak reseptor H1 dan H2 terdapat pada pascasinaptik, sedangkat H3 berada di membrane parasinaptik. Aktifitas reseptor H1 menyebabkan efek penurunan tekanan vascular perifer, peningkatan venula pascakapiler, vasokontruksi arteri koroner dan arteri basiler, bronkospasmae, kontraksi otot polos ileum, rasa sakit, dan gatal pada ujung saraf kulit, serta pada dosis tinggi, histamine merangsang pelepasan katekolamin dari medulla adrenalis.
MACAM-MACAM ANTIHISTAMIN

1.  Antihistamin (AH1) non sedatif.
a.    Terfenidin
           Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
b.     Astemizol 
            Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
c.    Mequitazin
            Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d.    Loratadin 
            Adalah suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. 1. Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.

2. Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin:
a. Antagonis Histamin H1 (senyawa Antihistamin)
Istilah antihistamin secara historis berarti obat obat yang mengantagonis kerja histamine pada reseptor H1 dan bukan reseptoe H2. Pengembangan obat antihistamin dimulai lebih dari lima dasawarsa yang lalu dengan penemuan bahwa diperoksan dapat melindungi hewan dari spasme bronchial yang diinduksi oleh histamine. Penemuan ini diikuti dengan sintesis sejumlah N-feniletilendiamin yang memiliki aktivitas antihistamin lebih besar daripada piperoksan.antagonis H1 ini, kini dikenal dikenal sebagai antihistamin generasi-pertama atau klasik, berhubungan secara structural dan mencakup sejumlah aminoalkil eter, etilendiamin, piperazin, propilamin, fenotiazin dan dibenzosiklohepten. Selain antagonism reseptor H1, senyawa ini menunjukkan serangkaian aktivitas farmakologis lain yang berperan dalam penetapan teraupetik dan reaksi merugikan.
Mekanisme Kerja:
Antagonis H1 didefinisikan sebagai obat yang secara kompetitif menghambat kerja histamine pada jaringan yang mengandung reseptor H1. Dahulu, antagonis H1 dievaluasi secara in vitro karena kemampuannya untuk menghambat spasme yang diinduksi oleh histamine dalam sepotong ileummarmot yang diisolasi. Antihistamin dapan dievaluasi secara in vivo karena kemampuannya untuk melindungi hewan terhadap efek letal dari histamine yang diberikan secara intravena atau melalui aerosol.
b. Anti histamine H-2 (H2)
Reseptor histamine H-2 berperan terutama dalam sel parietal mukosa lambung. Aktivitas reseptor tersebut oleh histamine merangsang sel tersebut dalam sekresi asam lambung. Anti-histamin H-2 menurunkan sekresi asam lambung, dan digunakan dalam pengobatan Maag, tukak peptic dan refluks gastrointestinal. Contoh obat anti-histamin h-2 adalah ranitidine, simetidin, famotidin dan lafutidin.
c. Anti-histamin H-3
Reseptor histamine H-3 ditemukan dalam otak berperan sebagai autoreseptor di sel syaraf histaminergik presinaptik. Fungsi reseptor H-3 berperan dalam control sintesis dan pelepasan histamine melalui penghambatan feedback. Anti-histamin-3 sejauh belum digunakan dalam klinik, namun baru dilakukan penelitian secara luas untuk dikembangkan sebagai obat pada penyakit neurodegenerative. Contoh senyawa golongan ini adalah klobenpropit, siproksifam, tioperamid.
d. Anti-histamin H-4
            Reseptor histamine H-4 berperan dalam hemotaksis sebagai sel mast, anti-histamin H-4 juga belum digunakan secara klinik. Obat ini dikembangkan sebagai imunomodulator, antiinflamasi dan analgesic. Contohnya adalah tioperamida.
Turunan Fenotiazin
Fenotiazin adalah antagonis dopamin dan bekerja sentral dengan cara menghambat chemoreseptor trigger zone. Obat ini dipakai untuk profilaksis dan terapi mual dan muntah akibat penyakit neoplasia, pasca radiasi, dan muntah pasca penggunaan obat opioid, anestesia umum, dan sitotoksik. Efek sedasi proklorperazin, ferfenazin, dan trifluoperazin lebih rendah dibanding klorpromazin. Reaksi distonia berat kadang-kadang muncul pada pemakaian fenotiazin, terutama pada anak-anak. Obat antipsikotik lainnya, termasuk haloperidol dan levomepromazin (metotrimeperazin) dan juga digunakan untuk meringankan gejala mual.

Farmakodinamik:
Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf  Pusat : CPZ  menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat.  Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler. Fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati.

Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.

Mekanisme Kerja
Obat turunan fenotiazin ini bekerja sebagai antagonis dari reseptor D2 karena afinitasnya yang tinggi pada reseptor ini. Penghambatan pada reseptor D2 memberikan efek terhalangnya jalur dopaminergik pada otak terutama pada jalur mesocortical, nigrostriatal dan tuberoinfundibular yang menghasilkan efek terapeutik dan efek samping dari penggunaan obat antipsikotik.


Turunan Etilendiamin (X=N)
Derivat etilendiamin ini (1961) berkhasiat spesifik terhadap M. Tuberculosa dan M. Atipis (termasuk MAI), tetapi  tidak terhadap bakteri lain. Kerja bakteriostatisnya sama kuatnya dengan INH, tetapi pada dosis terapi kurang efektif dibandingkan obat-obat primer. Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan sintesis RNA pada kuman yang sedang membelah, juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel.
Obat-obat dari kelompok ini umumnya memiliki data sedative yang lebih ringan.
Antazolin        : Daya antihistaminiknya kurang kuat, tetapi tidak merangsang
   selaput lendir. Digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi
   pada mata dan hidung (selesma) sebagai preparat kombinasi
   dengan nafazolin (Antistin-Privine, Ciba).
Tripelenamin   : Digunakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal akibat reaksi alergi.
Mepirin            : Adalah derivate metoksi dari tripelenamin yang digunakan dalam
 Kombinasi dengan feniramin dan fenilpropanolamin.
Klemizol          : Digunakan dalam preparat kombinasi salep atau suppositoria anti
                           Wasir.


Turunan Propilamin (X=C)
Obat-obat dari kelompok ini memiliki daya antihistamin kuat yaitu:
a.    Feniramin      : Berdaya antihistamik baik dengan efek meredakan batuk yang
                          cukup baik.
 Klorfenamin   : Mempunyai daya 10 kali lebih kuat, sedangkan derajat toksisitas
nya praktis tidak berubah. Efek-efek sampingnya adalah sifat
sedatifnya ringan.
Bromfeniramin : Derivatnya sama kuat dengan klorfenamin, isomer dextro juga
                          aktif dan isomer levo tidak. Juga digunakan sebagai obat batuk.
b.   Tripolidin      : Derivat ini berdaya agak kuat, mulai kerjanya pesat dan bertahan
  lama.



Turunan Kolamin ( Eter Amino Alkil )
Struktur umum : Ar(Ar-CH2)CH-O-CH2-CH2-N (CH3)

Hubungan struktur dengan aktivitas:
Ø  Pemasukan gugus Cl, Br, dan OCH3 pada posisi para cincin aromatik juga meningkatkan aktivitas dan menurunkan efek samping.
Ø  Pemasukan gugus CH3 pada posisi para cincin aromatik meningkatkan aktivitas.
Ø  Senyawa turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergikyang cukup bermakna karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol.
Turunan eter  aminoalkil yang pertama kali digunakan sebagai antagonis H1 adalah difenilhidramin. Studi hubungan kuantitatif turunan difenilhidramin oleh kutter dan hansch menunjukkan bahwa sifat lifofilik dan sterik mempengaruhi aktivitas antihistamindan pengaruh sifat sterik lebih dominan dibanding sifat lifofilik.
Efek samping umum turunan aminoalkil eter tersier adalah mengantuk dan efek samping pada saluran cerna relatif rendah.


Sumber:
Pohan S. S. 2007. Mekanisme Antihistamin pada Pengobatan Penyakit Alergik:
Blokade Reseptor–Penghambatan Aktivasi Reseptor. Jurnal Maj Kedokt  Indon. Vol. 57 No.4.
Staf pengajar Depertemen Farmakologi fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya.2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta: EGC.
Tjay T. H dan R. Kirana. 2007. Obat-obatan Penting. Jakarta: Gramedia.
Wilson dan Gisvold. 2012. Kimia Medisinal Organok dan Kimia Farnasi. Jakarta: EGC.

Pertanyaan:
1.      Bagaimana mekanisme kerja dari antihistamin?
        2.      Sebutkan satu contoh obat dari  Turunan Kolamin ( Eter Amino Alkil ) ?
3.      Bagaimana mekanisme kerja dari Anti-histamin H-4?
4.      Sebutkan efek smaping dari antihistamin?
5.      Apa yang membedakan antara anti-histamin H-1, H-2, H-3, dan H-4?
6.      Sebutkan contoh obat dari anti histamin H-1?
7.      Jelaskan cara turunan fenotiazin dalam menghambat chemoreseptor trigger zone !

Contoh obat turunan Fenotiazin (Thioridazine)

FENOTIAZIN THIORIDAZINE Thioridazine adalah obat untuk mengobati gangguan jiwa/mood tertentu (misalnya, skizofrenia). Obat i...