ANTIHISTAMIN
Histamin
merupakan salah satu faktor yang menimbulkan kelainan akut dan kronis, sehingga
perlu diteliti lebih lanjut mekanisme antihistamin pada pengobatan penyakit
alergik. Antihistamin merupakan inhibitor kompetitif terhadap histamin.
Antihistamin dan histamin berlomba menempati reseptor yang sama. Blokade
reseptor oleh antagonis H1 menghambat terikatnya histamin pada reseptor
sehingga menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos,
peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah.
Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa antihistamin H1 bukan hanya sebagai antagonis
tetapi juga sebagai inverse agonist yang mempunyai kapasitas menghambat
aktivitas reseptor H1 sedangkan antagonis H1 tidak berpengaruh terhadap
aktivitas reseptor H1. Reseptor pada permukaan sel (termasuk reseptor H1) dapat
berikatan dengan protein G yang terdapat pada membran sel di daerah
yang berbatasan
dengan sitoplasma (cytosolic domain of cell membrane). Perubahan/peningkatan
aktivitas reseptor H1 yang dipengaruhi molekul dari luar sel
mengakibatkan perubahan/peningkatan aktivitas protein G. Perubahan/
peningkatan
aktivasi protein G menimbulkan transduksi signal (signal transduction)
ke beberapa target (efektor), sehingga mengakibatkan aktivasi NF-kB yang merupakan
faktor transkripsi yang berperan pada terjadinya reaksi
radang.
Tata
Nama
Histamin, diketahui secara trival sebagai
4(5-)(2-aminoetil)midazol, secara structural terdiri atas heterosiklik imidazol
dan rantai samping etilamin. Gugus metil pada rantai samping aminoetil
ditunjukkan dengan α dan β. Rantai samping dilekatkan, melalui gugus β-CH2,
pada posisi 4 cincin imidazol. N imidazol pada posisi 3 ditunjukkan N pros
(), sedangkan N pada posisi 1 menunjukkan N tele (). Rantai samping N
dibedakan sebagai Nα..
Stereokimia
Histamine adalah molekul akiral; namun, reseptor histamine
diketahui memberikan stereoselektivitas tinggi terhadap lingan kiral. Pemodalan
molecular dan penelitian hubungan aktivitas-sterik mengenai pengaruh isomerisme
komformasional pada aktivitas histamine menunjukkan pentingnya struktur
ritamerik trans-gauche dalam aktivitas reseptor senyawa ini.
Penelitian dengan analog histamine yang secara konformasi terbatas menunjukkan
bahwa saat rotamer trans histamine memiliki afinitas baik untuk
reseptor histamine H1 maupun H2, konformer guache tidak
bekerja pada tempat H2.
Biosintesis
dan Distribusi
Histamine disintesis dalam granul sitoplasma sel penyimpanan
utama, sel mast dan basofilnya. Histamine dibuat secara alamiah dari asam
amino, yakni S-histidin, melalui katalisis enzim histidin dikarboksilase
bergantung-piridoksal fosfat (HDC, EC 4.1.1.22) atau asam amino, dekarboksilase
aromatic. Spesifik substrat lebih tinggi untuk HDC. Inhibitor HDC (HDCI)
mengandung α-fluorometil histidin (FMH) dan flavonoid tertentu, meskipun tak
ada HCDI yang telah terbukti berguna secara klinis.
Histamine
berinteraksi dengan reseptor spesifik pada berbagai jaringan target. Reseptor
histamine dibagi menjadi histamine 1 (H1) dan histamine 2 (H2).
Aktivitas reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos.
Bronkokonstriksi paling banyak terjadi pada pasien asma bronchial dan penyakit
paruh lainnya.
Histanin
melakukan kerja biologisnys berkombinasi dengan reseptor selular yang terdapat
pada permukaan membrane. Ada tiga jenis reseptor histamine yang dikenal disebut
H1, H2, dan H3. Di dalam otak reseptor H1 dan
H2 terdapat pada pascasinaptik, sedangkat H3 berada di membrane parasinaptik.
Aktifitas reseptor H1 menyebabkan efek penurunan tekanan vascular perifer,
peningkatan venula pascakapiler, vasokontruksi arteri koroner dan arteri
basiler, bronkospasmae, kontraksi otot polos ileum, rasa sakit, dan gatal pada
ujung saraf kulit, serta pada dosis tinggi, histamine merangsang pelepasan
katekolamin dari medulla adrenalis.
MACAM-MACAM
ANTIHISTAMIN
1. Antihistamin (AH1) non sedatif.
a. Terfenidin
Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
b. Astemizol
Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
c. Mequitazin
Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d. Loratadin
Adalah suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. 1. Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
Adalah suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. 1. Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
2. Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang
dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin:
a. Antagonis Histamin H1
(senyawa Antihistamin)
Istilah
antihistamin secara historis berarti obat obat yang mengantagonis kerja
histamine pada reseptor H1 dan bukan reseptoe H2.
Pengembangan obat antihistamin dimulai lebih dari lima dasawarsa yang lalu
dengan penemuan bahwa diperoksan dapat melindungi hewan dari spasme bronchial
yang diinduksi oleh histamine. Penemuan ini diikuti dengan sintesis sejumlah N-feniletilendiamin
yang memiliki aktivitas antihistamin lebih besar daripada piperoksan.antagonis
H1 ini, kini dikenal dikenal sebagai antihistamin generasi-pertama
atau klasik, berhubungan secara structural dan mencakup sejumlah
aminoalkil eter, etilendiamin, piperazin, propilamin, fenotiazin dan
dibenzosiklohepten. Selain antagonism reseptor H1, senyawa ini
menunjukkan serangkaian aktivitas farmakologis lain yang berperan dalam
penetapan teraupetik dan reaksi merugikan.
Mekanisme
Kerja:
Antagonis H1 didefinisikan sebagai obat yang
secara kompetitif menghambat kerja histamine pada jaringan yang mengandung
reseptor H1. Dahulu, antagonis H1 dievaluasi secara in
vitro karena kemampuannya untuk menghambat spasme yang diinduksi oleh
histamine dalam sepotong ileummarmot yang diisolasi. Antihistamin dapan
dievaluasi secara in vivo karena kemampuannya untuk melindungi hewan
terhadap efek letal dari histamine yang diberikan secara intravena atau melalui
aerosol.
b. Anti histamine H-2 (H2)
Reseptor
histamine H-2 berperan terutama dalam sel parietal mukosa lambung. Aktivitas
reseptor tersebut oleh histamine merangsang sel tersebut dalam sekresi asam
lambung. Anti-histamin H-2 menurunkan sekresi asam lambung, dan digunakan dalam
pengobatan Maag, tukak peptic dan refluks gastrointestinal. Contoh obat
anti-histamin h-2 adalah ranitidine, simetidin, famotidin dan lafutidin.
c. Anti-histamin H-3
Reseptor
histamine H-3 ditemukan dalam otak berperan sebagai autoreseptor di sel syaraf
histaminergik presinaptik. Fungsi reseptor H-3 berperan dalam control sintesis
dan pelepasan histamine melalui penghambatan feedback. Anti-histamin-3
sejauh belum digunakan dalam klinik, namun baru dilakukan penelitian secara
luas untuk dikembangkan sebagai obat pada penyakit neurodegenerative. Contoh
senyawa golongan ini adalah klobenpropit, siproksifam, tioperamid.
d. Anti-histamin H-4
Reseptor histamine H-4 berperan dalam hemotaksis sebagai sel mast,
anti-histamin H-4 juga belum digunakan secara klinik. Obat ini dikembangkan
sebagai imunomodulator, antiinflamasi dan analgesic. Contohnya adalah tioperamida.
Turunan Fenotiazin
Fenotiazin adalah antagonis dopamin dan bekerja sentral
dengan cara menghambat chemoreseptor trigger zone. Obat ini dipakai
untuk profilaksis dan terapi mual dan muntah akibat penyakit neoplasia, pasca
radiasi, dan muntah pasca penggunaan obat opioid, anestesia umum, dan
sitotoksik. Efek sedasi proklorperazin, ferfenazin, dan trifluoperazin lebih
rendah dibanding klorpromazin. Reaksi distonia berat kadang-kadang muncul pada
pemakaian fenotiazin, terutama pada anak-anak. Obat antipsikotik lainnya,
termasuk haloperidol dan levomepromazin (metotrimeperazin) dan juga digunakan
untuk meringankan gejala mual.
Farmakodinamik:
Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ)
adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat
dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ
(largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata
large action. Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek
sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada
pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi
amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas
dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini
juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat,
atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah
timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat
fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala
parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah
yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah
disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler. Fenotiazin terutama
yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada
pasien epilepsi harus berhati-hati.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian
diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin
dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%.
Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan
protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit
klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat
terakhir.
Mekanisme Kerja
Obat turunan fenotiazin ini bekerja
sebagai antagonis dari reseptor D2 karena afinitasnya yang tinggi pada reseptor
ini. Penghambatan pada reseptor D2 memberikan efek terhalangnya jalur
dopaminergik pada otak terutama pada jalur mesocortical, nigrostriatal dan
tuberoinfundibular yang menghasilkan efek terapeutik dan efek samping dari
penggunaan obat antipsikotik.
Turunan Etilendiamin (X=N)
Derivat etilendiamin ini (1961) berkhasiat spesifik terhadap
M. Tuberculosa dan M. Atipis (termasuk MAI), tetapi tidak terhadap bakteri lain. Kerja bakteriostatisnya
sama kuatnya dengan INH, tetapi pada dosis terapi kurang efektif dibandingkan
obat-obat primer. Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan sintesis RNA pada
kuman yang sedang membelah, juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding
sel.
Obat-obat dari kelompok ini umumnya memiliki data sedative
yang lebih ringan.
Antazolin : Daya antihistaminiknya kurang kuat,
tetapi tidak merangsang
selaput lendir. Digunakan untuk mengobati
gejala-gejala alergi
pada mata dan hidung (selesma) sebagai
preparat kombinasi
dengan nafazolin (Antistin-Privine, Ciba).
Tripelenamin : Digunakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal
akibat reaksi alergi.
Mepirin : Adalah derivate metoksi dari
tripelenamin yang digunakan dalam
Kombinasi dengan feniramin dan
fenilpropanolamin.
Klemizol : Digunakan dalam preparat kombinasi
salep atau suppositoria anti
Wasir.
Turunan Propilamin (X=C)
Obat-obat
dari kelompok ini memiliki daya antihistamin kuat yaitu:
a. Feniramin : Berdaya antihistamik baik dengan efek
meredakan batuk yang
cukup baik.
Klorfenamin :
Mempunyai daya 10 kali lebih kuat, sedangkan derajat toksisitas
nya
praktis tidak berubah. Efek-efek sampingnya adalah sifat
sedatifnya
ringan.
Bromfeniramin
: Derivatnya sama kuat dengan klorfenamin, isomer dextro juga
aktif dan isomer levo tidak. Juga digunakan
sebagai obat batuk.
b. Tripolidin : Derivat ini berdaya agak kuat, mulai
kerjanya pesat dan bertahan
lama.
Turunan
Kolamin ( Eter Amino Alkil )
Struktur
umum : Ar(Ar-CH2)CH-O-CH2-CH2-N (CH3)
Hubungan
struktur dengan aktivitas:
Ø Pemasukan
gugus Cl, Br, dan OCH3 pada posisi para cincin aromatik juga
meningkatkan aktivitas dan menurunkan efek samping.
Ø Pemasukan
gugus CH3 pada posisi para cincin aromatik meningkatkan aktivitas.
Ø Senyawa
turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergikyang cukup bermakna
karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol.
Turunan eter aminoalkil yang
pertama kali digunakan sebagai antagonis H1 adalah difenilhidramin. Studi
hubungan kuantitatif turunan difenilhidramin oleh kutter dan hansch menunjukkan
bahwa sifat lifofilik dan sterik mempengaruhi aktivitas antihistamindan
pengaruh sifat sterik lebih dominan dibanding sifat lifofilik.
Efek samping umum turunan aminoalkil eter tersier adalah mengantuk dan
efek samping pada saluran cerna relatif rendah.
Sumber:
Pohan S. S.
2007. Mekanisme Antihistamin pada
Pengobatan Penyakit Alergik:
Blokade
Reseptor–Penghambatan Aktivasi Reseptor.
Jurnal Maj Kedokt Indon. Vol.
57 No.4.
Staf pengajar Depertemen Farmakologi fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya.2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta: EGC.
Tjay T. H dan R. Kirana. 2007. Obat-obatan Penting. Jakarta:
Gramedia.
Wilson dan Gisvold. 2012. Kimia Medisinal Organok dan Kimia Farnasi. Jakarta:
EGC.
Pertanyaan:
1. Bagaimana
mekanisme kerja dari antihistamin?
3. Bagaimana
mekanisme kerja dari Anti-histamin H-4?
4. Sebutkan
efek smaping dari antihistamin?
5. Apa
yang membedakan antara anti-histamin H-1, H-2, H-3, dan H-4?
6. Sebutkan
contoh obat dari anti histamin H-1?
7.
Jelaskan cara turunan fenotiazin dalam menghambat chemoreseptor trigger zone
!

assalamualaikum
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine. Yang paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat).
Antihistamin menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin, produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan penglihatan kabur. Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi. Beberapa fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat (hidroksizin dan prometazin).
Efek samping dari antihistamin biasa nya mual, muntah, ngatuk, pusing, dan bahkan bisa menyebabkan edema
BalasHapusiya benar karena antihistamin biasanya berefek sedatif
Hapussaya akan menambahkan jawaban no 4
Hapussaya setuju pendapat kak yoan dan kak hesty,
bisa juga akan menimbulkan yaitu :
Mengantuk
Mulut kering atau disfagia
Pusing
Sakit kepala
Nyeri perut
Sulit buang air kecil
Mudah marah
Penglihatan kabur
jawaban no 2 nama obatnya ctm, feniramin maleat, Dimetinden maleat
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertayaan no 6. contoh obat dari anti histamin H-1 adalah ciproxifan dan clobenpropit.
BalasHapusSaya akan membantu menjawab pertanyaan no 6. Contoh obat antihistamin 1 yaitu prometazin, oksomemazin, tripelennamin, (klor) feniramin, difenhidramin, klemastin (Tavegil), siproheptadin (periactin), azelastin (Allergodil), sinarizin, meklozin, hidroksizin, ketotifen (Zaditen), dan oksatomida (Tinset).
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan no. 1
BalasHapusanti histamin Adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamine dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi resptor H1, H2, H3
5. Perbedaan antihistamin h1, h2, h3 dan h4 terletak diperbedaan reseptor masing masing histamin sehingga efek fsrmakologi yang diinginkan dari golongan tersebut juga berbeda-beda.
BalasHapus- reseptor h1 : menyebabkan vasodilatasi arteri
- h2 : meningkatkan sekresi asam lambung dan kecepatan kerja jantung
- h3 : reseptor histamin yg terletak di saraf jaringan otak dan perifer
- h4 : ditemukan di sel basofil dan sumsum tulang
menurut artikel yang saya baca perbedaan tersebut sebagai berikut :
Hapus1. Antagonis Reseptor Histamin H1
Secara klinis digunakan untuk mengobati alergi. Contoh obatnya adalah: difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.
2. Antagonis Reseptor Histamin H2
Reseptor histamin H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2 (antihistamin H2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan lafutidina.
3. Antagonis Reseptor Histamin H3
Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif. Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
4. Antagonis Reseptor Histamin H4
Memiliki khasiat imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik. Contohnya adalah tioperamida.
Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai antihistamin.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.
saya setuju dengan jawaban hilda dan nola,
Hapusantagonis h1 bekrja secara berkopentisi dengan histamin untuk mengikat reseptor, dan untuk antagonis h2 itu dia mengurangi sekresi asam lambung, h3 b3k3rja pada sistem syaraf perifer dan h4 memiliki aktivitas sebagai imunodulator
Hai son, saya akan mencoba menjawab no 6, yaitu contoh obatnya adalah: difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.
BalasHapussaya mencoba menjawab soal no 4
BalasHapusEfek samping fenotiazin yang sering terjadi adalah
1.gangguan ekstrapiramidal (gangguan pergerakan)
2.penyakit Parkinson
jika penggunaan jangka panjang:
1.menimbulkan hipotensi
2.agranulositosis
3.dermatitis
4.penyakit kuning
5.perubahan mata dan kulit sensitif terhadap cahaya
saya akan menambahkan jawaban vikri
Hapusmnrt saya efek smping lainnya ada mual muntah kantuk
saya hanya menambakan saja dari jawaban vikri,
Hapusefek samping lainnya yaitu : vertigo, tinitus, inkoordinasi, diplopia, euforia, tremor, imsomnias, nafsu makan berkurang, keluhan pada epigastrium, konstipasi, mulut kering, disuria palpitasi, sakit kepala, dll
selain itu juga dapat berefek sedatif
HapusSaya mau membantu menjawab permasalahan no. 6
BalasHapusAntagonis-H1 terdiri dari Antagonis-H1 generasi pertama dan Antagonis-H1 generasi kedua
Antagonis-H1 generasi pertama
1. Turunan eter aminoalkil
- Difenhidramin HCI
- Dimenhidrinat
- Karbinoksamin maleat
- Korfenoksamin HCl
- Klemastin fumarat
- Piprinhidrinat
2. Turunan etilendiamin
- Tripelenamin HCI,
- Antazolin HCl
- Mebhidrolin nafadisilat
3. Turunan alkilamin
- Feniramin maleat
- Klorfeniramin maleat
- Dimetinden maleat
4. Turunan piperazin
- Homoklorsiklizin
- Hidroksizin HCl
- Oksatomid
5. Turunan fenotiazin
- Prometazin HCl
- Metdilazin HCl
- Mekuitazin
- Oksomemazin
- Isotipendil HCl
- Pizotifen hidrogen fumarat
6. Turunan lain-lain
- Siproheptadin HCl
- Azatadin maleat
Antagonis-H1 generasi kedua
1. Terfenadin
2. Akrivastin
3. Astemizol
4. Loratadin
5. Setirizin
saya akan mencoba menambahkan menjawab no 6
BalasHapusdifenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine, dan prometazin
saya akan mencoba menambahkan menjawab no 6
BalasHapusdifenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine, dan prometazin
Pertanyaan no.4
BalasHapusPertanyaan no.3
Antagonis H1
Efek samping antagonis H1 generasi I yang paling sering terjadi adalah sedasi. Selain itu, gejala SSP lain dapat terjadi, seperti pusing, tinitus, lesu, insomnia, dan tremor. Efek samping lain yang biasanya terjadi berupa gangguan saluran cerna, seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare. Efek samping akibat efek muskarinik ini tidak terjadi pada antagonis H1 generasi II. Meskipun jarang, efek samping pada antagonis H1 generasi II dapat berupa torsades de pointes, yaitu terjadi perpanjangan interval QT. Hal ini biasanya terjadi karena gangguan obat, terutama terfenadin dan astemizol, dalam dosis takar lajak, adanya gangguan hepatik yang mengganggu sistem sitokrom P450, atau adanya interaksi dengan obat lain. Perpanjangan QT interval diduga terjadi karena obat-obat tersebut menghambat saluran K+. Selain itu, juga dapat terjadi dermatitis alergik karena penggunaan topikal. Pada keracunan akut antagonis H1 , dapat terjadi suatu sindrom beruapa adanya halusinogen, ataksia, tidak adanya koordinasi otot, dan kejang.
Antagonis H2
Laporan yang terbanyak tentang efek samping adalah simetidin dan ranitidin karena banyak penderita yang telah diobati dengan kedua macam obat ini. Namun, secara keseluruhan, kejadian efek samping kedua obat tersebut rendah. Efek samping simetidin, pernah dilaporkan dapat berupa pusing, sakit kepala, lesu, nyeri otot, gangguan seksual, ginekomastia, dan diare. Gejal SSP, seperti somnolens dan kebingungan lebih banyak lagi terjadi pada orang tua dan gangguan penderita ginjal. Hilangnya libido, impoten, dan ginekomastia terjadi pada gangguan simetidin jangka panjang, dan diduga karena obat ini meningkatkan prolaktin dan mengikat reseptor androgen. Simetidin juga dilaporkan dapat menghambat sitokrom P450 hati dan menimbulkan gangguan darah, seperti trombositopenia, granulositopenia, dan neutropenia. Sementara itu, pada ranitidin, kejadian kebingungan, ginekomastia, gangguan seksual, ataupun gangguan darah lebih jarang terjadi dibandingkan dengan simetidin. Efek samping famotidin yang sering terjadi berupa sakit kepala, konstipasi bahkan diare dan kejadian efek samping tersebut hampir sama dengan nizatin.
Daftar Pustaka
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
untuk beberapa efek samping antihistamin
BalasHapusMengantuk.
Mulut kering atau disfagia.
Pusing.
Sakit kepala.
Nyeri perut.
Sulit buang air kecil.
Mudah marah.
Penglihatan kabur.
menjawab no 2
BalasHapusturunan kolamin:
- Difenhidramin HCI
- Dimenhidrinat
- Karbinoksamin maleat
- Korfenoksamin HCl
- Klemastin fumarat
- Piprinhidrinat
Saya akan mencoba menjawab Jawaban soal no 6
BalasHapusContoh obat antihismtamin H-1 generasi pertama : loratidin, fexofenadine dan levocetirizin.
Contoh obat antihistamin H-1 generasi kedua : CTM, dimenhidrinat, dan hidroksizin
Jawaban nomor 1 yaitu Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor H1, H2 dan H3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek antihistamin yang sudah terjadi. Antihistamin pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor khas.
BalasHapussaya akan menjawab yaitu Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine. Yang paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat).
BalasHapusAntihistamin menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin, produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan penglihatan kabur. Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi. Beberapa fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat (hidroksizin dan prometazin).
saya akan menjawab pertanyaan no.2 contoh obatnya yaitu : benadryl, ,systral dan dramamin
BalasHapusuntuk jawaban nomor 2. contohnya Difenhidramin HCI, Dimenhidrinat, Karbinoksamin maleat, Korfenoksamin HCl, Klemastin fumarat, Piprinhidrinat, Benadryl, ,Systral dan Dramamin
BalasHapussaya akan membantu menjawab
BalasHapusMekanisme Kerja :
Histamin dapat menimbulkan efek bila berinteraksi dengan reseptor histaminergik, yaitu reseptor H1, H2, H3. Interaksi histamin dengan H₁menyebabkan kontraksi dengan otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vaskular dan meningkatkan sekresi mukus, yang dihubungkan dengan peningkatan cGMP dalam sel. Interaksi dengan resptor H₁juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga permeabel terhadap cairan dan plasma protein, yang menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.
Interakasi histamin dengan reseptor H₂dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan kecepatan kerja jantung. Produksi asam lambung disebabkan penurunan cGMP dalam sel dan peningkatan cAMP. Peningkatan seksresi asam lambung dapat menyebabkan tukak lambung. Efek ini diblok oleh antagonis H2.
Reseptor H₃ adalah reseptor histamin yang baru diketemukan pada tahun 1987 oleh Arrang dkk., terletak pada ujung saraf aringan otak dan jaringan perifer, yang mengontrol sintesis dan pelepasan histamin, mediator alergi lain dan peradangan. Efek ini diblok oleh antagonis H3.
saya akan mencoba menjawab pertanyaan no enam,jadi contoh-contoh obat antihistamin H1 yaitu seperti difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine dan quetiapine.
BalasHapussaya akan menambahkan jawaban no 4
BalasHapusefek samping dari antihistamin :
Mengantuk
Mulut kering atau disfagia
Pusing
Sakit kepala
Nyeri perut
Sulit buang air kecil
Mudah marah
Penglihatan kabur
saya mau membantu menjawab soal no. 1
BalasHapus1. AH2 : Sekresi asam lambung dipengaruhi oleh histamin, gastrin dan asetilkolin. Antagonis H2 menghambat secara langsung kerja histamine pada sekresi asam (efikasi intrinsik) dan menghambat kerja potensiasi histamin pada sekresi asam, yang dirungsang oleh gastrin atau asetilkolin (efikasi potensiasi). Jadi histamin mempunyai efikasi intrinsik dan efikasi potensiasi, sedang gastrin dan asetilkolin hanya mempunyai efikasi potensiasi. Hal ini berarti bahwa hanya yang dapat meningkatkan sekresi asam, sedang gastrin atau asetilkolin hanya meningkatkan sekresi asam karena factor efek potensiasinya dengan histamin
2. AH1 : Antagonis-H1 sering pula disebut antihistamin klasik atau antihistamin-H1, adalah senyawa yang dalam kadar rendah dapat menghambat secara bersaing kerja histamin pada jaringan yang mengandung reseptor H1
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusEfek samping dari antihistamin adalah mengantuk, mulut kering atau disfagia, pusing, sakit kepala, nyeri perut dan sebagainya. Harap konsultasikan pemakaian obat tersebut ke apoteker atau dokter.
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine. Yang paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat).
BalasHapusAntihistamin menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin, produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan penglihatan kabur. Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi. Beberapa fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat (hidroksizin dan prometazin).
saya akan mencoba menjawab pertayaan no 6. contoh obat dari anti histamin H-1 adalah ciproxifan dan clobenpropit.
BalasHapussaya akan menambahkan Tipe-tipe klasifikasi hipersensitivitas adalah:
BalasHapusHipersensitivitas immediate (tipe I) respon imun dimediasi oleh sel TH2, antibodi IgE, dan sel mast; yang pada akhirnya akan mengeluarkan mediator inflamasi.
Hipersensitivitas antibody-mediated (tipe II) antibodi IgG dan IgM dapat menginduksi inflamasi dengan mempromosikan fagositosis atau lisis terhadap luka pada sel. Antibodi juga mempengaruhi fungsi selular dan menyebabkan penyakit tanpatanpa ada luka jaringan.
Hipersensitivitas kompleks imun (tipe III) antibodi IgG dan IgM mengikat antigen yang biasanya ada di sirkulasi darah, dan kompleks antibodi-antigen mengendap di jaringan yang pada akhirnya akan menginduksi proses inflamasi.
1.Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine. Yang paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat).
BalasHapusAntihistamin menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin, produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan penglihatan kabur. Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi. Beberapa fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat (hidroksizin dan prometazin).
1. Antihistamin H1
Meniadakan secara kompetitif kerja histamin pada reseptor H1. Selain memiliki kefek antihistamin, hampir semua AH1 memiliki efek spasmolitik dan anastetik lokal
2. Antihistamin H2
Bekerja tidak pada reseptor histamin, tapi menghambat dekarboksilase histidin sehinnga memperkecil pembentukan histamin jika pemberian senyawa ini dilakukan sebelum pelepasan histamin. Tapi jika sudah terjadi pelepasa histamin, indikasinya sama denfan AH 1
no 1
BalasHapusAntihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine.
Iyaaa saya setuju dengan saudara bunga, karena menurut artikel yg saya baca juga sapa antihisyamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin dan produksi lendir
Hapusbetul, pada dasarnya mekanisme kerja dengan memblok reseptor spesifik.. Histamin dapat menimbulkan efek jika berinteraksi dengan reseptor histaminergik, yaitu reseptor H1, H2, dan H3. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan interaksi oto polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vaskular dan meningkatkan sekresi usus, yang dihubungkan dengan peningkatan cGMP dalam sel. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga permeable terhadap cairan dan plasma protein yang menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini di blok oleh antagonis-1. Interaksi histamin dengan reseptor H2 dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan kecepatan kerja jantung. Produksi asam lambung di sebabkan penurunan cGMP dalam sel dan peningkatan cAMP. Peningkatan sekresi asam lambung dapat menyebabkan tukak lambung. Efek ini di blok oleh antagonis H2. Reseptor H3 adalah resptor histamin yabg baru di ketemukan pada tahun 1987 oleh arrange dan kawan-kawan, terletak pada ujung syaraf aringan otak dan jaringan perifer yang mengontrol sintesis dan pelepasan histamin, mediator alergi lain dan peradangan. Efek ini di blok antagonis H3.
Hapusefek samping umum yang bisa dirasakan seperti mengantuk, pusing, konstipasi, mulut kering, gangguan dalam berpikir, penglihatan buram dan sulit mengosongkan kandung kemih
BalasHapusBeberapa efek samping yang mungkin umum terjadi setelah mengonsumsi obat antialergi ini adalah:
BalasHapusMengantuk.
Mulut kering atau disfagia.
Pusing.
Sakit kepala.
Nyeri perut.
Sulit buang air kecil.
Mudah marah.
Penglihatan kabur.
Efek samping utama : sedatif
BalasHapusAntihistamin merupakan obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamine dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi resptor H1, H2, H3. Efek antihistamin buakan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek histamine yang sudah terjadi. Antihistamin umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin terutama bekerja dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan resptor khas. Berdasarkan pada reseptor khas antihistamin dibagi menjadi (1) antagonis H1, terutama digunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi. (2) antagonis H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobtan penderita tukak lambung. (3) antagonis H3 sampai sekarng belum digunakan untuk pengobtan, masih dalam penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan system kardiovaskuler.
BalasHapus